Belajar dari “Laskar Cinta”: Sebuah Curahan

Hari kedua ospek dipenuhi dengan indoktrinasi terkait heroisme perjuangan mahasiswa. Namun ada yang berbeda di ospek hari ini. Ketika beristirahat di belakang fakultas, seorang perempuan berjilbab besar menemuiku. Dengan santunnya dia menyapa, “assalamu’alaikum”, kujawab uluk salam itu. Selanjutnya, tanpa bertatapan mata, dia mulai mengajukan beberapa pertanyaan, “adek dari pesantren, mau nggak ikut ngaji lagi?” Begitu gencar dan militankah perjuangan mereka?

Kuliah di kampus sekuler (kampus negeri bukan UIN/ IAIN/ STAIN) akan banyak menjumpai indoktrinasi keislaman –atawa kearaban- dari mereka yang menganggap dirinya paling kaffah. Semuanya harus disajikan dengan aroma arab, yang tidak arab kafir. Apakah ini yang namanya zaman kebangkitan Islam? Tetapi, mengapa mereka begitu mudahnya mengkotak-kotakkan dan mengkafir-kafirkan orang? Apakah mereka wakil Tuhan di bumi? Sedangkan Tuhan saja tidak pernah men-justifikasi orang. Gerakan revivalis Islam akan menjadi ancaman tersendiri bagi perkembangan kehidupan multikultural di Indonesia. Gerakan ini, bukan tidak mungkin, suatu saat akan menguasai panggung politik negeri ini. Faktanya sekarang, mereka telah menguasai hampir seluruh posisi politik di kampus-kampus sekuler di Indonesia. Padahal sebenarnya mereka hanya mengajarkan bagaimana cara berwudhlu, sholat dan membaca al-Quran, yang seharusnya telah didapatkan seorang mahasiswa ketika dia masih SD atau SMP. Namun toh ini bisa membuat mereka –kelompok revivalis Islam- memperolah suara mayoritas ketika ada pemilu raya mahasiswa. Pola ini juga yang kemudian mereka bawa pada pentas politik nasional. Dari sini kemudian muncul pertanyaan, apakah ini akibat kegagalan pendidikan Islam di masa lalu? Terutama bagi segolongan masyarakat tertentu, yang selanjutnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan politik di masa sekarang.

Kita bisa sedikit belajar dari “Laskar Cinta”. Bagaimana syair-syair dalam lagu ini mengajarkan pada kita untuk menjunjung tinggi perbedaan dan perdamaian. Islam di Indonesia tidak seharusnya diperkosa oleh nash-nash agung al-Quran, Islam Indonesia harus ditampilkan dalam konteks ke-Indonesiaan, yang mampu berakulturasi kuat dengan kebudayaan lokal pribumi –meminjam Gus Dur dan Cak Nur-. Namun kemudian tidak menjadi Islam yang memperkosa teks –maaf, seperti halnya Islam Liberal-. Islam Indonesia harus menjunjung tinggi prinsip tawassuth, tawazun, ta’addul, dan tatharruf. Terakhir, tidak salah ketika kita juga belajar dari gerakan revivalis Islam, belajar dari militansi dan kedisiplinan mereka.(*)

0 Responses to “Belajar dari “Laskar Cinta”: Sebuah Curahan”


  1. No Comments

Leave a Reply