Menjelang berbuka di hari pertama ramadhan, kita disuguhi tayangan rohani di salah satu stasiun televisi. Kali ini memang agak lain dari tahun-tahun sebelumnya. Acara siraman rohani tahun ini dibawakan oleh K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, salah seorang tokoh Islam yang kontroversial di tanah air. Posisi Gus Dur sebagai salah seorang ulama besar Indonesia, keturuan ulama besar pula, dan pernah juga menduduki kursi Ketua Tanfidziah PBNU, organisasi Islam terbesar di Indonesia, tentunya membuat kita semua tidak meragukan lagi kemampuan Gus Dur soal seluk-beluk keislaman. Dalam ceramahnya Gus Dur menekankan pentingnya kerja keras, walaupun kita sedang menjalankan ibadah puasa. Menurutnya, inti dari penderitaan yang menjadi dasar mengapa kita harus menjalankan kewajiban berpuasa, yaitu agar kita bisa merasakan penderitaan orang lain, akan bisa kita rasakan ketika kita tetap menjalankan aktifitas seperti biasanya. Jadi tidak ada alasan, bahwa puasa menjadikan lemah dalam semua hal, termasuk berjuang menyuarakan suara rakyat di jalanan.
Disini kita tidak akan membicarakan puasa dari segi ukhrowi dan diniyah yang dikaitkan dengan berbagai dalil al-Quran dan hadist. Akan tetapi kita akan membicarakan puasa dari sudut pandang sosial kemasyarakatan. Puasa selalu identik dengan tidak makan selama satu hari, harus menahan lapar dan dahaga, yang akhirnya membuat kita menjadi malas untuk melakukan berbagai aktifitas. Para ulama dalam khotbah-khotbahnya selalu menekankan arti penting dari menahan lapar dan dahaga. Mengapa kita harus menahan lapar dan dahaga? Adalah supaya kita mampu merasakan penderitaan yang sedang dirasakan orang lain, dan penderitaan ini lazim dirasakan oleh jamak orang Indonesia yang masih hidup dibawah belenggu kemiskinan.
Kalau kita telaah, puasa mempunyai dua dimensi penting, yaitu dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Dimensi ketuhanan karena itu merupakan hubungan perintah untuk melakukan sesutu dari sang Khalik kepada mahluknya, yang berarti masuk dalam ranah syariat. Dimensi kemanusiaan, karena puasa mengajarkan kita untuk adil terhadap sesama, dalam artian puasa memaksa kepada seluruh umat untuk merasakan penderitaan lapar, yang mungkin dialami oleh sebagian umat yang hidup tidak berkecukupan. Kesimpulan besarnya adalah, ketika semua orang sama-sama sedang menjalankan ibadah puasa, berarti semua orang mengalami penderitaan yang sama bentuknya. Harus menahan lapar, dahaga dan berbagai nafsu keduniawian lainnya.
Oleh karena itu, moment puasa sesungguhnya bisa digunakan sebagai ajang untuk meningkatkan kesadaran bersama seluruh massa rakyat Indonesia. Menjadi aneh, ketika puasa malah kemudian ada istilah jeda demonstrasi, padahal penggusuran pun tidak absent di bulan ramadahan. Apabila budaya jeda aksi di bulan ramadhan dilanggengkan, yang dirugikan justru masyarakat itu sendiri. Penguasa –pemerintah- akan memanfaatkan moment ramadhan untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat. Penguasa akan beranggapan, rakyat mudah dininabobokan ketika puasa, karena lelah dengan kewajibannya sebagai pemeluk agama. Tengok saja apa yang terjadi setahun lalu, pemerintah berusaha memanfaatkan moment ramadahan untuk mengeluarkan kebijakan sewenang-wenang –menaikkan harga BBM-. Memang benar, cara-cara demikian terbukti sukses. Aksi penolakan kenaikan harga BBM yang pada mulanya massif dan gencar dimana-mana, memasuki bulan ramadhan langsung surut drastis, hanya sebagian kelompok saja yang masih mau turun ke jalan di tengah panas terik ramadhan. Selanjutnya pemerintah akan berkata, “mari di bulan ramadhan kita tingkatkan kesabaran, mengahadapi semua problematika kehidupan.” Kalau kita semua kemudian terbius dengan promosi murahan seperti di atas, matilah sudah perlawanan terhadap kezaliman.
Benar apa yang dikatakan Gus Dur, bahwa puasa tidak boleh menghentikan aktifitas yang memang seharusnya kita lakukan. Artinya, ketika memang harus berdemonstrasi, untuk memperjuangkan kebenaran, walaupun di bulan puasa, harus tetap berdemonstrasi. Tidak ada alasan karena puasa kita menjadi lemah, tidak kemudian dijadikan alasan harus menghormati orang yang sedang berpuasa. Karena, justru di bulan puasa kesadaran seseorang bertambah, kesadaran untuk memahami penderitaan. Ketika semua orang sama-sama mengalami penderitaan yang kadarnya sama, sudah seharusnya kesadaran bersama untuk melawan kesewang-wenangan bisa dibangun. Jeda aksi di bulan ramadhan hanya akan menjadi bumerang bagi kita semua. Sebab penguasa akan memanfaatkan kondisi ini untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak populis. Kalau jeda aksi di bulan puasa dibudayakan, berarti kita ikut membantu penguasa melakukan penggusuran terhadap pedagang kaki lima dan rakyat-rakyat miskin yang tidak memiliki tanah.
Seorang aktifis dan pembela rakyat sejati harus sesegera mungkin menghapus istilah jeda aksi dalam kamus aktifisnya. Karena dengan istilah itu, sama saja menghianati perjuangan yang sebenarnya. Jika Gus Dur mengatakan kerja keras selama bulan ramadhan dan tetap menjalankan kewajiban berpuasa adalah inti dari penderitaan seseorang yang berpuasa, maka tetap berdemonstrasi di bulan ramadhan, tanpa meninggalkan kewajiban berpuasa adalah inti perjuangan dari seorang aktifitis dan rakyat tertindas pada umunya, dalam melawan kesewenang-wenangan. Oleh karenanya, mari di bulan ramadhan kita perkuat konsolidasi kesadaran, rapatkan barisan untuk bergerak bersama melawan penindasan, mumpung semuanya masih merasakan bagaimana sengsaranya menahan lapar dan dahaga.(*)
0 Responses to “Berpuasa Bukan Berarti Berhenti Bergerak”