Archive Page 2

Belajar dari “Laskar Cinta”: Sebuah Curahan

Hari kedua ospek dipenuhi dengan indoktrinasi terkait heroisme perjuangan mahasiswa. Namun ada yang berbeda di ospek hari ini. Ketika beristirahat di belakang fakultas, seorang perempuan berjilbab besar menemuiku. Dengan santunnya dia menyapa, “assalamu’alaikum”, kujawab uluk salam itu. Selanjutnya, tanpa bertatapan mata, dia mulai mengajukan beberapa pertanyaan, “adek dari pesantren, mau nggak ikut ngaji lagi?” Begitu gencar dan militankah perjuangan mereka?

Continue reading ‘Belajar dari “Laskar Cinta”: Sebuah Curahan’

Berpuasa Bukan Berarti Berhenti Bergerak

Menjelang berbuka di hari pertama ramadhan, kita disuguhi tayangan rohani di salah satu stasiun televisi. Kali ini memang agak lain dari tahun-tahun sebelumnya. Acara siraman rohani tahun ini dibawakan oleh K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, salah seorang tokoh Islam yang kontroversial di tanah air. Posisi Gus Dur sebagai salah seorang ulama besar Indonesia, keturuan ulama besar pula, dan pernah juga menduduki kursi Ketua Tanfidziah PBNU, organisasi Islam terbesar di Indonesia, tentunya membuat kita semua tidak meragukan lagi kemampuan Gus Dur soal seluk-beluk keislaman. Dalam ceramahnya Gus Dur menekankan pentingnya kerja keras, walaupun kita sedang menjalankan ibadah puasa. Menurutnya, inti dari penderitaan yang menjadi dasar mengapa kita harus menjalankan kewajiban berpuasa, yaitu agar kita bisa merasakan penderitaan orang lain, akan bisa kita rasakan ketika kita tetap menjalankan aktifitas seperti biasanya. Jadi tidak ada alasan, bahwa puasa menjadikan lemah dalam semua hal, termasuk berjuang menyuarakan suara rakyat di jalanan.

Continue reading ‘Berpuasa Bukan Berarti Berhenti Bergerak’

Kemunduran Pancasila: Gagal Tafsir Nasionalisme Indonesia

Benar, bahwa Indonesia ialah sebuah negara yang majemuk dan multikultural, sebab Indonesia dibentuk dari berbagai macam bangsa, yang memiliki budaya, hukum, kebiasaan, bahasa, dan adat istiadat yang beraneka ragam. Selama ini sepertinya terjadi gagal tafsir atas model negara bangsa Indonesia, negara agaknya tak mau mengakui keberadaan berbagai macam bangsa yang hidup dalam cangkang Indonesia, dan yang mereka akui ialah sebuah konsep tentang bangsa Indonesia, padahal, bangsa Indonesia itu tidaklah ada. Indonesia hanyalah sebuah negara, yang terdiri dari berbagai macam bangsa, bangsa Aceh, bangsa Batak, bangsa Jawa, bangsa Madura, bangsa Dayak, bangsa Bugis, bangsa Timor, bangsa Papua, dan lain sebagainya.

Continue reading ‘Kemunduran Pancasila: Gagal Tafsir Nasionalisme Indonesia’

Sebuah Catatan untuk GOLKAR

Setiap Revolusi akan menguap

dan kemudian hanya menyisakan sebuah birokrasi baru

(Franz Kafka)

Meski secara formal dan simbolik rezim neofasis-militer Orde Baru sudah runtuh delapan tahun lalu, namun sekian banyak penyakit warisannya masih membekas, bahkan tereproduksi dan terus meledak. Salah satunya adalah kendaraan politik andalan Soeharto, yang selalu dan hampir pasti mengantar sang tiran menuju puncak kekuasaan. “GOLKAR”, tidak lain dan tidak bukan menjadi turangga Soeharto, dalam makna filosofis yang mendalam seorang pria jawa.

Continue reading ‘Sebuah Catatan untuk GOLKAR’

Pemuda Sebagai Ujung Tombak

“Kolonialisme lama hanya merampas tanah, sedangkan kolonialisasi baru merampas seluruh kehidupan” (Vandana Shiva)

Pemuda selalu identik dengan perubahan sosial di Indonesia, semenjak jaman kolonial hingga sekarang. Peran kesejarahan dan keterlibatan yang amat panjang telah menempatkannya sebagai kelompok strategis yang memiliki daya dorong transformasi sosial yang signifikan. Hingga tepatlah kiranya bila pemuda dianggap sebagai salah satu ikon penting dalam perubahan sosial di Indonesia.

Membaca peran pemuda kontemporer, karenanya butuh diletakkan pada pembacaan historisitasnya. Hal ini bisa dilihat dari peran dan fungsi pemuda Indonesia yang begitu kompleks dalam kehidupan berbangsa, diantaranya mulai perlawanan atas imperialisme, hingga penggulingan rezim kekuasaan despotis, upaya dekonstruksi formasi sosial masyarakat, fungsi sebagai motor penggerak, pengorganisasian dan sekaligus sebagai kekuatan yang berfungsi melawan kekuatan jahat dari luar negara saat ini (neoliberalisme-neoimperialisme).

Continue reading ‘Pemuda Sebagai Ujung Tombak’

Dekonstruksi Sistem Birokrasi Patrimonial

Meski secara formal dan simbolik rezim neofasis-militer Orde Baru sudah runtuh delapan tahun lalu, namun sekian banyak penyakit warisannya masih membekas, bahkan tereproduksi dan terus meledak. Salah satunya adalah, kebijakan yang membuat rumit jalur-jalur birokrasi dan tata pemerintahan. Akibatnya penyakit korupsi sulit sekali untuk diberantas, sebagai efek dari sistemiknya jejaring yang telah dibangun oleh Orde Baru untuk menciptakan budaya korupsi –dikatakan belum afdhol, jika seorang pejabat belum melakukan tindakan korupsi di masa jabatannya-.

Continue reading ‘Dekonstruksi Sistem Birokrasi Patrimonial’

Membumikan Kembali Kesadaran Berpergerakan

action.jpg

“Buat kami, orang lapar, makanan yang

diberikan kepada kami dengan tangan kanan

atau tangan kiri, tidak ada bedanya”

(Pak Samadikun, tukang becak dari kampung Jembatan)

Membaca Indonesia, akan identik dengan membaca sejarah perjuangan panjang pemuda dan mahasiswa, karena sejarah memang dibentuk oleh orang muda. Semenjak lahir embrio tentang kesadaran berkeindonesiaan, kaum muda selalu saja menjadi motor penggerak transformasi sosial. Jadi tidaklah fatal, jika kaum muda diidentikkan dengan perubahan sosial di Indonesia. Peran kesejarahan yang panjang telah menempatkan pemuda dan mahasiswa sebagai kelompok strategis yang memiliki daya dorong transformasi sosial yang signifikan. Pemuda dan mahasiswa dianggap sebagai salah satu ikon penting dalam perubahan sosial dan perkembangan sejarah masyarakat Indonesia. Karenanya, untuk belajar tentang peran pemuda dan mahasiswa kontemporer, perlulah kita untuk sejenak melongok tonggak-tonggak prestasi kaum muda di masa yang lampau. Sejak awal, peran dan fungsi kaum muda memang sangatlah kompleks, mulai dari pengusiaran kaum imperealis, penggulingan rezim despotis otoriter, upaya dekonstruksi formasi sosial masyarakat, hingga menjadi kekuatan paling strategis sebagai motor penggerak dalam melakukan perlawanan terhadap kejahatan-kejahatan kemanusiaan kontemporer, yang menggunakan kedok globalisasi neoliberalisme.

Continue reading ‘Membumikan Kembali Kesadaran Berpergerakan’

Sudah Waktunya Melindungi “Tukang Kritik”

“bangsa Indonesia baru akan mempunyai sejarah sendiri

yang tidak bersifat perbudakan kalau berhasil mengadakan revolusi total,

yaitu mengenyahkan penjajah ke luar sekaligus membersihkan diri ke dalam.

Revolusi Indonesia mempunyai dua tombak,

yaitu mengusir imperialisme Barat dan mengikis sisa-sisa feodalisme”

(Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka)

Sabda tidak lagi terdefinisi sebagai Pandhita Ratu, itulah yang terjadi dalam situasi Indonesia modern saat ini, sebab seringkali para penguasa berperilaku mencla-mencle antara kata dan perbuatan. Coba kalau mau menghitung-hitung sudah berapa banyak Wakil Presiden kita yang terhormat melakukan perbuatan sedemikian. Berapa banyak massa rakyat Indonesia yang telah dikecewakan? Atau model Presiden kita terhormat, yang selalu menyelesaikan suatu persoalan dengan serangkaian retorika bahasa. Suatu persoalan pelik dapat diselesaikan hanya dengan beberapa alur kalimat yang dibungkus kata-kata indah dan disampaikan penuh kharisma, tanpa suatu tindakan konkrit yang bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Syukur, saat ini presiden telah sadar dan mengaku taubatan nasukha terhadap gaya-gaya seperti di atas. Presiden akan lebih tegas dan konkrit –katanya– untuk tahun ke tiga masa pemerintahannya.

Continue reading ‘Sudah Waktunya Melindungi “Tukang Kritik”’

Runtuhnya Kearifan Budaya Indonesia

Runtuhnya Madzhab Keynesian pada 1970-an mengharuskan Inggris dan AS untuk mengubah seluruh kebijakan ekonomi politik internasionalnya. Kedua negara ini memilih untuk kembali kepada konsep ekonom klasik Adam Smith, tentunya dengan sifat yang lebih liberal. Ajaran neoklasik –dikenal juga dengan neoliberalisme-, yang mengajarkan penghilangan campur tangan negara dalam setiap aspek kehidupan negara, menjadi pandangan baru bagi Inggris dan AS, dalam menghegemoni negara-negara di belahan dunia lainnya. Pasca robohnya tembok Berlin –simbol runtuhnya sosialisme internasional-, gegap gempita neoliberalisme, yang menginginkan unifikasi dunia di bawah kuasa modal (negara-negara maju) semakin menggurita.

Continue reading ‘Runtuhnya Kearifan Budaya Indonesia’

« Previous Page